Temuan UX & Prinsip Interaksi (Studi Kasus ERPNext v16)
Temuan UX #1 - Search Bar: Klik Membuka Modal Tengah
Gambar D: Modal Search
Tangga rujukan - intensitas interupsi:
Kesalahan ERPNext: search-by-klik ditaruh di level 5 padahal ekspektasi user level 2. Ctrl+K masih tertolerir di level 2-4 karena dipanggil sengaja, bukan diklik santai.
Entri dokumen (ERPNext v16):
Klik input search membuka modal tengah + backdrop gelap. Sepele per kejadian, signifikan secara kumulatif: memutus kontinuitas spasial, menyembunyikan konteks, memutus flow, meninggalkan attention residue dan loss of place. Ketidaknyamanan psikologis = selisih tingkat interupsi yang diharapkan vs yang terjadi. Pola palette benar untuk Ctrl+K, salah untuk klik input. Seharusnya: anchored dropdown di bawah input.
Aturan BMP yang lahir dari temuan ini:
Temuan UX #2 - "Load More" vs Pagination di List Data Bisnis
Gambar C: List Department
Perilaku yang diamati (v16):
Analisa psikologis & operasional - kenapa ini salah tempat:
Entri dokumen (ERPNext v16):
List master/transaksi memakai pola "Load More" ala media sosial. Ini merusak spatial memory user terhadap dataset, menyembunyikan total konteks (hanya menampilkan "20 of X"), dan berisiko membebani DOM browser pada data besar. Pola ini tepat untuk activity feed, tapi salah untuk data operasional.
Aturan BMP yang lahir dari temuan ini:
Temuan UX #3 - Pelanggaran "Single Ownership" di Sidebar Modul
Gambar C: List Department
Perilaku yang diamati (v16):
Analisa arsitektur informasi:
Entri dokumen (ERPNext v16):
Sidebar modul sering dicampuri shortcut lintas domain (mis. User & Email Account masuk ke sidebar Organization). Ini melanggar prinsip Single Ownership di UI, menciptakan beban kognitif ganda (user bingung harus cari fitur di modul mana), dan mengaburkan batas antara "Master Data Bisnis" dengan "Konfigurasi Platform".
Aturan BMP yang lahir dari temuan ini:
Temuan UX #4 - Ilusi Kesetaraan di Desktop Launcher
Gambar B: Launcher Desktop
Perilaku yang diamati (v16):
Analisa taksonomi (yang sudah kita bahas sebelumnya):
Entri dokumen (ERPNext v16):
Desktop launcher menyajikan Platform (Framework), Master Data (Organization), dan Policy (Settings) sebagai tiga ikon yang setara secara visual. Ini meruntuhkan taksonomi sistem, mengundang user bisnis masuk ke area platform yang bukan ranahnya, dan membuktikan bahwa ERPNext tidak membedakan antara "Data", "Aturan", dan "Mesin" di level presentasi.
Aturan BMP yang lahir dari temuan ini:
Ringkasan Paradigma UX yang Terkumpul
Dari 4 temuan ini, kita bisa menarik 3 Prinsip UX Bisnis (Anti-Pattern Konsumer) yang sangat kuat untuk BMP:
Temuan UX #5 - Breadcrumb Tidak Mencerminkan Hierarki Navigasi
Gambar E: Role Permission Manager
Perilaku yang diamati (v16):
Analisa - kenapa ini merusak:
Entri dokumen (ERPNext v16):
Breadcrumb tidak merefleksikan hierarki navigasi sidebar; kedalamannya bervariasi menurut jenis halaman (DocType vs Page), dan level orangtua tidak hadir/tidak dapat diklik. User kehilangan jangkar spasial horizontal; sidebar dan breadcrumb memberi petunjuk ruang yang bertentangan. Seharusnya: Home > Users > Permissions > Permission Manager.
Aturan BMP yang lahir dari temuan ini:
Ini sekaligus menutup lingkaran prinsip "satu fitur, satu rumah, nol keraguan": breadcrumb adalah konfirmasi tertulis dari rumah itu - kalau sidebar dan breadcrumb tidak cocok, keraguan kembali masuk.
Mau saya teruskan mengumpulkan temuan model begini (masih ada beberapa kandidat di screenshot-mu, mis. tombol "Set User Permissions" yang hidup di luar hieraksi aksi halaman), atau kita kunci bab UX dan mulai bedah Accounting?
Temuan UX #6 - Slot Tombol Primary Dipakai untuk Navigasi, Bukan Aksi [Gbr E]
Gambar E: Role Permission Manager
Perilaku: tombol hitam paling menonjol di kanan atas bertuliskan "Set User Permissions" - padahal itu tautan ke halaman lain (User Permission), bukan aksi membuat record. Di hampir semua halaman lain, slot yang sama berisi "Add User / Add Department" (create).
Masalah: slot primary adalah janji aksi utama halaman; otot user terlatih "tombol hitam = buat baru". Memakainya untuk navigasi lintas halaman = mengkhianati muscle memory dan mempromosikan navigasi sekunder ke pangkat primary.
Aturan BMP: slot primary selalu aksi dominan halaman (biasanya create). Navigasi ke halaman lain = tombol sekunder/menu. Semantik tombol hitam konsisten di semua halaman.
Temuan UX #7 - Halaman Alat Membuka dalam Keadaan Kosong Mati [Gbr E]
Gambar E: Role Permission Manager
Perilaku: halaman terbuka dengan dua input kosong + kalimat "Select Document Type or Role to start." - tanpa default, tanpa saran; Quick Help ada tapi di bawah lipatan.
Masalah: empty state yang baik mengajar dan menawarkan langkah pertama. Halaman alat yang membuka "mati" memaksa user sudah tahu taksonomi sebelum bisa mulai - kebalikan dari onboarding yang baik.
Aturan BMP: setiap halaman membuka dalam keadaan berguna: data default, item terakhir dipakai, atau pilihan terpandu. Empty state wajib memuat aksi berikutnya, bukan hanya kalimat perintah.
Temuan UX #8 - Ornamen Konsumer di List Operasional [Gbr A]
Gbr A: List User + Anotasi
Perilaku: setiap baris membawa 💬 0 (jumlah komentar) dan ikon hati (like/follow); header list punya hati lagi.
Masalah: pola media sosial (like/komen) ditempel ke data operasional = noise; nilai "0" di semua baris adalah informasi nol yang memakan perhatian; hati di konteks bisnis terbaca "suka" padahal maksudnya follow - semantik pinjam yang menyesatkan.
Aturan BMP: list operasional hanya memuat kolom yang relevan keputusan. Kolaborasi (komentar) hidup di timeline dokumen, bukan ornamen baris. Pola sosial konsumer tidak diimpor ke data bisnis.
Temuan UX #9 - Label Navigasi Ter-truncate [Gbr B]
Gambar B: Launcher Desktop
Perilaku: ikon launcher menampilkan "Manufactur...", "Subcontrac...", "ERPNext Se...".
Masalah: navigasi adalah tempat terakhir yang boleh mengorbankan keterbacaan - user harus bisa membaca tujuan sebelum klik. Sel grid fix + tanpa wrap = nama terpotong tanpa jaminan tooltip.
Aturan BMP: label navigasi tidak pernah ter-truncate; kalau ruang sempit, wrap dua baris atau kecilkan ikon - nama wajib terbaca penuh.
Temuan UX #10 - Kolom Teknis Bocor ke List Bisnis [Gbr C]
Gambar C: List Department
Perilaku: list Department menampilkan kolom "Is Group" berisi checkbox - detail mekanisme tree (nested set), plus baris root "All Departments".
Masalah: user bisnis berpikir "induk/anak departemen", bukan "flag group". Menampilkan mekanisme internal = memaksa user belajar bahasa implementasi; sama keluarganya dengan kebocoran Framework ke launcher (#4).
Aturan BMP: list hanya menampilkan konsep bisnis; mekanisme tree diekspresikan lewat indentasi/expand-collapse, bukan flag teknis.
Temuan UX #11 - Suffix Company Mencemari Nama Master [Gbr C]
Gambar C: List Department
Perilaku: nama tampil sebagai "Accounts − PSGA", "Marketing − PSGA" - identitas master disuffix kode company untuk scoping multi-company.
Masalah: suffix adalah metadata, bukan identitas; menempelkannya ke nama membuat list repetitif dan bising, serta mencampur dua konsep (siapa vs milik company mana).
Aturan BMP: identitas terpisah dari metadata - multi-company diekspresikan lewat badge/kolom/filter company global, tidak pernah suffix nama.
Temuan UX #12 - Satu Dropdown Mencampur Tiga Jenis Barang [Gbr A]
Gbr A: List User + Anotasi
Perilaku: menu kiri atas berisi campur aduk: identitas modul (Users/Frappe Framework), navigasi (Desktop, Workspaces, Website), preferensi pribadi (Display, Session Defaults), aksi sistem (Reload), Help, Logout - satu list datar.
Masalah: jenis berbeda (navigasi vs preferensi vs sesi vs sistem) tanpa pengelompokan = user memindai lebih lama; aksi developer-ish (Reload) terpapar ke semua user - varian kecil dari penyakit ownership (#3).
Aturan BMP: dropdown akun/menu dikelompokkan per jenis dengan pemisah: navigasi / preferensi / sesi; aksi sistem/developer disembunyikan berdasarkan role.