Data pack riset · per 19 Oktober 2026

Indonesia · Karhutla 2026

Api di bawah tanah. Asap di paru-paru kita.

Total luas Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Indonesia 24,2 juta hektare; 16,4 juta di antaranya rawan terbakar. Sepanjang 2026, asap kebakaran terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, dan pemerintah menyiapkan badan baru untuk menanganinya.S33 Inilah keadaan 2026 — angka demi angka, sumber demi sumber, termasuk bagian yang masih diperdebatkan.

139.378

Titik hotspot di lahan gambut, 1–14 September 2026

Pantau Gambut S3

57%

Dari titik itu berada di fungsi lindung gambut

Pantau Gambut S3

24,2juta ha

Total luas Kesatuan Hidrologis Gambut Indonesia

Pantau Gambut S4

US$16,1miliar

Kerugian ekonomi kebakaran 2015 — patokan historis

Bank Dunia S11

Api membakar lahan gambut yang sudah dikeringkan.

97–99% lahan terbakar tak kembali jadi hutan · Pantau Gambut 2026 54% beralih ke sawit monokultur · Pantau Gambut 2026 41% jadi semak belukar · Pantau Gambut 2026 139.378 hotspot gambut · 1–14 Sep 2026 · Pantau Gambut 57% di fungsi lindung gambut · Pantau Gambut 2026 US$16,1 miliar kerugian 2015 · Bank Dunia 47 juta orang terpapar asap 2015 · Antara merujuk peneliti UGM 70% sekat kanal rusak · studi 2015–2024 yang dikutip Inside Ecology Hotspot turun hingga 22% di area rewetting efektif, 2015–2019 · Inside Ecology 6.811 titik sumber asap nasional · Greenpeace 2026

01Skala

Seberapa besar api ini, sebenarnya?

Kebakaran 2026 bukan satu peristiwa tunggal. Total luas Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Indonesia 24,2 juta hektare; dalam dua pekan September 2026 tercatat 139.378 titik panas di lahan gambut. Angka-angka ini tidak selalu mengukur hal yang sama — dan itu bagian dari ceritanya.

24,2juta ha

Total Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Indonesia Pantau GambutS4

16,4juta ha

Dari luas itu, sekitar 16,4 juta ha rawan terbakar Pantau GambutS4

6juta ha

Sangat rentan banjir menurut studi Pantau Gambut Pantau GambutS4

139.378 titik panas terdeteksi di lahan gambut pada 1–14 September 2026. 57% di antaranya berada di fungsi lindung gambut — kawasan yang seharusnya dilindungi, bukan dibakar. Pantau GambutS3

4.900

Titik panas tercatat BMKG sampai akhir Juli 2026. Puncak kemarau diprakirakan Agustus–September. BMKGS13

6.811

Titik sumber asap nasional yang dipetakan Greenpeace, 8 Agustus–1 Oktober 2026. GreenpeaceS4

1.413

Titik sumber asap di Papua Selatan sampai 1 Oktober 2026, bagian dari hitungan nasional Greenpeace. GreenpeaceS4

390

Hotspot di Kabupaten Ogan Ilir sepanjang 2026 — padahal daerah itu dinyatakan tidak punya rawa gambut. MongabayS1

Jangan tertukar Titik panas bukan hektare. 139.378 hotspot tidak berarti 139.378 hektare terbakar; satu titik bisa mewakili area kecil atau beberapa titik di satu kebakaran besar. Angka ini hanya bisa dibandingkan dengan angka berdefinisi sama — bukan dengan luas kebakaran.
Pola yang berulang
Asap pekat menyelimuti jalan dan bangunan di kawasan terdampak kebakaran lahan
Kredit foto dimuat di bagian Sumber.

Sumatera Selatan

Tujuh kabupaten yang terbakar pada 2015 terbakar lagi pada 2026.

Laporan Mongabay (12 Oktober 2026) mencatat pola yang sama di provinsi yang sepuluh tahun lalu jadi pusat bencana. Yang berbeda: sebagian kebakaran 2026 justru berada di lahan pertanian dan perkebunan kawasan rawa — termasuk Ogan Ilir, yang dinyatakan tidak punya rawa gambut.

Ini pengingat penting: tidak semua karhutla adalah kebakaran gambut. Sebagian api 2026 terjadi di lahan pertanian dan perkebunan kawasan rawa.S1

02Sepuluh tahun

Lahannya terbakar. Hutannya tidak kembali.

Selama sepuluh tahun terakhir, 97–99% lahan yang terbakar tidak dikembalikan menjadi hutan. Studi Pantau Gambut (5 Oktober 2026) menemukan dua arah perubahan yang dominan: sawit monokultur skala besar, dan semak belukar yang dibiarkan.

Dua kategori yang dirinci dalam ringkasan studi Pantau Gambut (5 Oktober 2026). Ringkasan yang sama menyebut 97–99% lahan terbakar tidak dikembalikan menjadi hutan; kategori selebihnya tidak dirinci dalam ringkasan itu.S4

Temuan NGO

97–99%

Lahan yang terbakar dalam sepuluh tahun terakhir tidak dikembalikan menjadi hutan. Restorasi di atas kertas tidak otomatis berarti tutupan hutan pulih di lapangan.

Pantau Gambut, 5 Okt 2026S4

Catatan metodologi Angka 97–99% adalah temuan satu studi NGO, bukan statistik resmi pemerintah. Ia tetap penting karena mengukur sesuatu yang jarang diukur: nasib lahan setelah api padam.

03Iklim

El Nino memperpanjang kekeringan — bukan satu-satunya penyebab.

BMKG memprakirakan El Nino bertahan sampai awal 2027 dengan peluang puncak intensitas kategori kuat. Tapi cuaca hanya bagian dari persamaan: gambut yang sudah dikeringkan kanal akan terbakar lebih mudah, bahkan di tahun yang tidak ekstrem. Greenpeace justru menolak El Nino sebagai penjelasan utama.

28 Juli 2026

Rapat terbatas di Istana

Pemerintah menyebut hotspot terkonsentrasi di enam provinsi gambut — Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan — tetapi mencatat tren peningkatan potensi kebakaran di luar enam provinsi itu, termasuk NTT dan NTB. Klaim pemerintahS14S37

Agustus–September

Puncak kemarau 2026

BMKG memprakirakan puncak musim kemarau 2026 jatuh pada Agustus–September. Dampak El Nino ke Indonesia, menurut Deputi Klimatologi BMKG, terutama terasa ketika bertemu musim kemarau. BMKGS13

September 2026

Fase kritis

Dikutip 11 September 2026, BMKG menyatakan September 2026 masih fase kritis karhutla, dengan asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. BMKGS33

Sep 2026 – Kuartal I 2027

El Nino berlanjut

El Nino diprakirakan bertahan sampai awal 2027. Peluang puncak intensitas kategori kuat tetap terbuka, dan IOD positif kemungkinan terjadi September–Desember 2026. BMKGS13

BMKG · 2026

Dampak El Nino ke Indonesia, menurut Deputi Klimatologi BMKG, terutama terasa saat bertemu musim kemarau.

Artinya: El Nino bukan pemicu tunggal. Ia memperbesar peluang api menyebar di lanskap yang sudah rapuh.

Keterangan Deputi Klimatologi BMKG (parafrase)S13

Greenpeace · 2026

El Nino bukan penyebab utama kebakaran — posisi yang disampaikan juru kampanye hutan Greenpeace.

Pernyataan juru kampanye hutan Greenpeace, Belgis Habiba, dikutip media pada 2026. Ini posisi NGO, bukan konsensus ilmiah — dan bukan berarti iklim diabaikan.

Pernyataan NGO (parafrase), dikutip mediaS38

Yang belum kita ketahui BMKG menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah rawan. Tidak ditemukan data efektivitas OMC khusus untuk kebakaran gambut dalam data pack riset ini — tidak ada angka atau rujukan sumber yang bisa dipakai, jadi kami tidak mengklaim OMC berhasil atau gagal.

04Harga api

2015 menunjukkan seberapa mahal api yang dibiarkan.

Kebakaran 2015 adalah patokan historis yang paling banyak dikutip — dan yang paling sering salah dibaca sebagai “tahun lalu”. Angka-angka ini dari peristiwa sebelas tahun lalu, bukan dari 2026.

Bank Dunia

US$16,1miliar

Perkiraan kerugian ekonomi kebakaran 2015, setara sekitar 1,9% PDB Indonesia saat itu. Bank Dunia juga mencatat bahwa US$1 untuk pencegahan bisa menghemat US$30 biaya pemadaman — perbandingan yang dikutip Bank Dunia, bukan hitungan halaman ini.

Sumber: Bank DuniaS11

Lahan gambut yang hangus terbakar dengan sisa batang pohon menghitam
Kredit foto dimuat di bagian Sumber.

≈Rp221triliun

Angka rupiah yang beredar untuk kerugian 2015, dengan area terdampak sekitar 2,6 juta hektare. Konversi kurs berbeda antarsumber, jadi angka dolar yang dipakai sebagai acuan utama.

Kutipan jurnal UPR dari World Bank (2016)S35

47juta orang

Perkiraan jumlah orang di Sumatera dan Kalimantan yang terpapar asap pada 2015, dengan setidaknya 19 orang dilaporkan meninggal.

Antara, merujuk peneliti UGMS32

US$295juta

Perkiraan kerugian lingkungan terkait biodiversitas. Angka ini tidak menghitung biaya kesehatan jangka panjang, hilangnya produktivitas, atau emisi karbon.

Bank Dunia via GreenpeaceS39

Rp33,8triliun

Kerugian Kalimantan Tengah saja, Juni–Oktober 2015. Satu provinsi, satu musim kebakaran.

Kutipan jurnal UPR dari World Bank (2016)S35

20,6juta ha

Perkiraan luas lahan rawa gambut Indonesia dalam sumber yang sama dengan angka dampak 2015 — berbeda dari angka KHG 24,2 juta ha yang dipakai di halaman ini; keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan tidak dijelaskan definisinya dalam data pack.

Antara, merujuk peneliti UGMS32

1 : 30

Setiap dolar yang diinvestasikan untuk pencegahan dapat menghemat sekitar 30 dolar biaya pemadaman, menurut studi yang dikutip Bank Dunia.

Bank DuniaS11

Cara membaca angka ini Semua angka di bagian ini merujuk 2015 — bukan 2026. Untuk 2026, data final luas terbakar versi resmi belum tersedia dalam riset ini, dan angka NGO yang ada hanya mencakup sebagian (lihat bagian Konflik Data).

Rekaman ilustrasi

Api gambut, menurut Joosten, tidak cukup dipadamkan dengan menyiram permukaannya: tanahnya harus digenangi, dan air yang dijatuhkan dari pesawat jarang memadai.

Parafrase dari Hans Joosten, pakar gambut, 2010 (bukan kutipan langsung)S10

Video: CAL FIRE / Government of California · Public domain · Wikimedia Commons — rekaman ilustrasi (Long Bar Fire, California, 2020), bukan lokasi di Indonesia.

05Rewetting

Membasahi kembali gambut: bukti, batas, dan biaya perawatan.

Pendekatan Indonesia memakai 3R: rewetting (membasahi kembali), revegetasi, dan revitalisasi ekonomi. Rewetting dilakukan lewat sekat kanal, timbun kanal, dan sumur bor. Yang paling menentukan bukan tekniknya, melainkan apakah air benar-benar bertahan di lahan itu.

Sekat kanal: paling banyak bukti, paling rapuh dirawat.

Kanal yang mengeringkan gambut dibendung agar air tanah naik. Studi counterfactual di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah (2017–2022, terbit 19 Juni 2026) menemukan efeknya bervariasi — dan yang paling efektif adalah sekat kanal yang area basahnya saling tumpang tindih. Studi ilmiahS6

Tapi ada satu angka yang harus dibaca sebelum angka lainnya: studi 2015–2024 di seluruh Indonesia menemukan 70% unit sekat kanal dalam kondisi rusak. Studi ilmiahS7

Tingkat bukti: penilaian redaksi — beberapa studi, sebagian lokal, dengan hasil yang tidak seragam.

Area terbakar yang bisa dihindari bila semua sekat berfungsi
≤ 6,4%area terbakar
Emisi yang bisa dihindari
0,4MtCO2e
Imbal hasil ekonomi 10 tahun di lokasi terbaik
>100%lokasi terbaik
Unit sekat kanal yang rusak (studi 2015–2024)
70%studi 2015–2024 (dikutip S7)
Jangkauan kenaikan muka air tanah dari kanal
terbatasstudi lapangan Riau

Sumber angka: S6 (studi counterfactual Kalimantan, 2026); S7 (studi 2015–2024); S40–S41 (studi lapangan Riau). Harga per hektare rewetting tidak ditemukan dalam riset ini.

Pembanding di luar Indonesia
Sekat kanal di lahan gambut yang dibasahi kembali
Kredit foto dimuat di bagian Sumber.

Belarus & Rusia

Gambut yang dulu hampir tiap tahun terbakar tidak terbakar pada 2010 dan 2015.

Di Belarus, proyek UNDP-GEF mencatat gambut yang dulu hampir setiap tahun terbakar tidak terbakar pada tahun kering 2010 dan 2015 setelah rewetting, dengan rencana merestorasi 15% gambut rusak (sekitar 500.000 ha) pada 2030. Studi/proyekS8

Rusia memulai rewetting setelah kebakaran 2010: lebih dari 40.000 ha di Provinsi Moskow dan sekitar 5.000 ha di Tver. Di Moskow, area gambut terbakar 2010 sekitar 20.828 ha, sementara total area yang di-rewetting 2010–2013 sekitar 73.109 ha. S9S36

Pelajaran yang paling tidak nyaman Studi menunjukkan rewetting bisa menurunkan area terbakar dan risiko hotspot di lokasi tertentu (S6, S7). Persoalan yang tersisa adalah perawatan setelah proyek selesai: 70% sekat kanal rusak dalam studi 2015–2024, dan klaim restorasi tidak otomatis berarti hutan kembali. Opini penulis Investasi rewetting tanpa anggaran pemeliharaan akan ditagih ulang setiap musim kering.

06Data hotspot

Setelah 2015, angkanya turun drastis — tapi jangan buru-buru menyimpulkan.

Data pemerintah menunjukkan penurunan hotspot yang sangat tajam antara 2015 dan 2017. Angka itu nyata. Yang tidak boleh dilakukan adalah mengklaim penurunan tersebut murni karena kebijakan: cuaca antar tahun ikut berubah, dan hotspot bukan luas terbakar.

2015
21.929hotspot
2016
3.915hotspot
2017
2.581hotspot

Jumlah hotspot NOAA. Batang 2016–2017 nyaris tak terlihat karena penurunannya memang lebih dari 80%.

Sumber: KLHK, data hotspot 2015–2017S12

Data pemerintah

Periode 1 Januari–28 Agustus

Nasional
8.2472015
2.3562016
Riau
1.2922015
3172016
Kalteng
1.1372015
562016

Hotspot NOAA, 1 Jan–28 Agu. Sumber: Menteri LHK saat itu, dikutip Republika (2016)S42

Hati-hati menafsirkan Penurunan 2015–2017 berbarengan dengan perubahan kondisi cuaca antar tahun. Angka ini data pemerintah dan tidak boleh disebut sebagai hasil kebijakan semata.
Yang menyertai penurunan itu
Citra satelit menunjukkan asap kebakaran gambut menyelimuti sebagian Indonesia
Kredit foto dimuat di bagian Sumber. — Citra satelit: asap dari kebakaran lahan di Kalimantan, 1 September 2026 (NASA Earth Observatory).

Kebijakan 2016

BRG dan moratorium

Pembentukan Badan Restorasi Gambut dengan target 2 juta hektare, disertai moratorium pembukaan lahan gambut. S43

Patroli terpadu

300 posko, 1.203 desa

KLHK (2017) mencatat patroli terpadu melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan Masyarakat Peduli Api, menjangkau 1.203 desa rawan. S44

Praktik lapangan

Belajar dari Rantau Rasau

Di Desa Rantau Rasau, Jambi, melibatkan mantan pelaku pembakaran dinilai efektif membangun kesadaran warga — dengan syarat ada komitmen berhenti membuka lahan dengan cara dibakar. S30

07Konsesi

Titik api di dalam konsesi: apa yang ditunjukkan data, dan apa yang tidak.

Tiga organisasi memetakan titik api yang jatuh di dalam wilayah konsesi. Angka-angkanya besar dan penting. Tapi memetakan titik di dalam konsesi tidak sama dengan membuktikan siapa yang membakar.

Greenpeace

6.811

Titik sumber asap nasional (8 Agu–1 Okt 2026). Dari jumlah itu: 970 titik di 120 konsesi PBPH dan 980 titik di 233 konsesi sawit.

8 Agu–1 Okt 2026S4

Counter Point

120.638

Titik api di Kalimantan yang berada dalam 276 konsesi hutan, dihitung sejak 1 Agustus 2026. Perhatikan: ini “titik api” dengan metode berbeda dari “titik sumber asap”.

Sejak 1 Agu 2026S21

Walhi

524

Titik di 17 perusahaan HTI, plus 567 titik di 47 perusahaan perkebunan (Kalimantan, Agustus 2026). Walhi Riau mencatat 193 titik panas di 34 konsesi PBPH/HGU.

Walhi, Agustus 2026S22

Jangan simpulkan lebih jauh dari datanya Lokasi bukan bukti pelaku. Pemetaan NGO memakai overlay peta; perusahaan sering membantah. Definisi “konsesi”, periode hitung, dan jenis titik (hotspot satelit vs sumber asap) berbeda antarsumber. Angka-angka ini menunjukkan di mana titik terdeteksi, bukan siapa yang membakar.
Hamparan perkebunan sawit berbatasan dengan lahan gambut
Kredit foto dimuat di bagian Sumber.
Personel Manggala Agni berkumpul di markas sebelum patroli
Kredit foto dimuat di bagian Sumber. — Personel Manggala Agni Sumatera V di Dumai. Patroli terpadu melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan Masyarakat Peduli Api.S44

Penegakan hukum

Ratusan tersangka — tetapi ukuran keberhasilan masih diperdebatkan.

1

Hingga awal September 2026, ratusan orang menjadi tersangka karhutla. Dirjen Gakkum Kementerian Kehutanan menyebut pengawasan terhadap 32 perizinan berusaha pemanfaatan hutan. PemerintahS21

2

Greenpeace menilai tersangka perorangan bukan tolok ukur tunggal; ukurannya adalah eksekusi denda korporasi, area yang pulih, dan efek jera. NGOS21

3

Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menyatakan akan membatalkan izin pemegang HGU yang lahannya terbakar. PemerintahS3

4

Walhi (Juli 2025): 969 perusahaan sawit yang beroperasi puluhan tahun di gambut dan hutan seluas 5,6 juta hektare belum dievaluasi; banyak yang divonis bersalah tetapi putusannya tak dieksekusi; 231 perusahaan terpantau punya hotspot di konsesi. NGOS23

Sudut pandang industri, dari 2016 GAPKI (2016) menyatakan membentuk 527 Desa Siaga Api dan — berdasarkan data anggotanya — tidak ada titik api di konsesi anggota, dengan merujuk Global Forest Watch bahwa mayoritas hotspot Januari–Agustus 2016 berada di luar konsesi. Klaim ini sudah berumur satu dekade dan tidak sebanding dengan data NGO 2025–2026; kami menampilkannya sebagai posisi pihak industri, bukan sebagai bantahan atas data terbaru. S28

08Kelembagaan

Dari BRGM ke BPGMN: apa yang berubah, apa yang belum.

Pada 24 September 2026, Presiden Prabowo memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Sampai awal Oktober 2026, aturan pembentuknya masih berupa draf — jadi yang bisa dinilai baru desainnya, belum hasilnya.

2016

Badan Restorasi Gambut dibentuk

Melalui peraturan presiden era Jokowi, dengan target restorasi 2 juta hektare — disertai moratorium pembukaan lahan gambut.S43

2020

Menjadi BRGM

Perpres 120/2020 menetapkan masa tugas badan empat tahun.S15

31 Desember 2024

Masa tugas berakhir

Bukan “dibubarkan mendadak”: masa tugas berakhir sesuai Perpres 120/2020. Beberapa media dan NGO memakai kata “dibubarkan”; diksi netralnya adalah berakhir masa tugasnya.S15

Juli–Agustus 2025

Setelah BRGM berakhir

Madani Berkelanjutan mencatat 26.761 hektare gambut terbakar pada periode ini.S5

24 September 2026

BPGMN diputuskan

Rapat terbatas dengan akademisi dan pakar memutuskan pembentukan badan baru, langsung di bawah Presiden, fokus pencegahan di enam provinsi gambut.S19S15

1 Oktober 2026

Workshop 22 pakar dan NGO

Mandat yang dibahas mencakup perlindungan, rehabilitasi, restorasi, dan manfaat ekonomi masyarakat. Menhut menargetkan surat izin prakarsa Perpres ke Mensesneg pada pekan itu.S16S18

Awal Oktober 2026

Masih draf

Status per awal Oktober: Perpres masih draf. Struktur resmi dan anggaran belum final.S16

Yang sudah pasti

  • Badan baru langsung di bawah Presiden.
  • Fokus pencegahan karhutla di enam provinsi gambut.
  • Diisi ilmuwan dan profesional; anggaran dijanjikan “cukup”.
  • BRIN diminta mendukung deteksi dini dan pemantauan hotspot.
  • Presiden menekankan pencegahan presisi berbasis desa dan pelibatan pengetahuan lokal.

Sumber: SetnegS19, Fortune IDNS15, iNews/RCTI+S16, KatadataS18

Yang belum jelas

  • Isi final Perpres dan struktur resmi badan.
  • Angka anggaran yang disetujui.
  • Siapa yang akan memimpin badan.
  • Mandat final (perlindungan, rehabilitasi, restorasi, manfaat ekonomi masyarakat) — masih dibahas.
  • Apakah badan akan setara menteri — masih berupa usulan.
  • Apakah badan diberi kewenangan mengevaluasi perizinan di konsesi.
  • Bagaimana posisi masyarakat yang bergantung pada gambut dalam desainnya.

Daftar ini dibatasi pada hal yang tidak ditemukan dalam riset — bukan spekulasi.

Pandangan yang beredar
Analisis pakar

Risiko orkestrasi dan anggaran

Pakar yang diwawancarai Katadata mengusulkan badan dipimpin Menteri Kehutanan. Menurut mereka, tidak mudah bagi kepala badan mengorkestrasi banyak kementerian/lembaga, dan risiko utama adalah keterbatasan anggaran. Badan bisa memfasilitasi penegakan hukum.

KatadataS17

Pantau GambutWalhi

Jangan ad hoc, jangan lewati konsesi

Pantau Gambut meminta badan baru tidak bersifat ad hoc agar lebih baik dari BRG/BRGM. Walhi menilai badan harus bisa menyasar gambut rusak dan terbakar di konsesi, serta mengevaluasi perizinan di atasnya.

MongabayS3

Greenpeace

Skeptis pada kata “pengelolaan”

Greenpeace khawatir istilah “pengelolaan” melanggengkan alih fungsi gambut dengan dalih pemanfaatan. Peringatan ini datang dari organisasi yang sama yang menyoroti kebakaran di lanskap yang pernah direstorasi.

GreenpeaceS2

Madani & Tropenbos

Restorasi butuh pendampingan

Setelah BRGM berakhir, penanganan dinilai masih bersifat kedaruratan. Restorasi swakelola di tingkat tapak membutuhkan pendampingan lembaga berkualifikasi.

KompasS5S34

Kompas opini

Pertanyaannya: posisi masyarakat

Praktisi kebijakan publik menulis bahwa pertanyaan kunci desain BPGMN adalah posisi masyarakat yang bergantung pada gambut. Gambut diatur banyak rezim sekaligus: lingkungan, kehutanan, agraria, tata ruang, perkebunan, ESDM.

Kompas, 6 Okt 2026S45

Opini penulis

Ujian pertama bukan pidato

Badan yang baru berdiri akan dinilai dari tiga hal yang mudah dicek: apakah ia punya anggaran pemeliharaan untuk sekat kanal yang sudah rusak, apakah ia boleh mengevaluasi izin, dan apakah datanya dibuka dengan definisi yang jelas.

Bukan temuan riset

09Ekonomi alternatif

Kalau gambut harus tetap basah, apa yang bisa ditanam?

Paludikultur adalah budidaya di lahan gambut yang tetap basah — tanpa drainase dalam. Beberapa studi menilai sejumlah tanaman layak secara ekonomi bagi petani kecil, tetapi membangun rantai nilai dan pendampingannya tetap menjadi hambatan utama.

Bukti dari lapangan

Bukan hanya konsep: sudah ada 350 rumah tangga dan 250 hektare sagu.

Wetlands International melaporkan 350 rumah tangga menanam sagu di 250 hektare. Purun dimanfaatkan sebagai bahan anyaman dan konstruksi pada muka air tinggi — komoditas yang justru butuh lahan basah. S27

WRI Indonesia mencatat 165 tanaman paludikultur yang terbukti menghasilkan pendapatan sambil memulihkan gambut. Namun konsep Zona Ekonomi Paludikultur (SPEZ) belum terwujud di Indonesia. S26

Sagu diolah secara tradisional — salah satu komoditas paludikultur
Kredit foto dimuat di bagian Sumber.

Peringkat teratas studi

Sagu

Terbaik secara agregat: keberlanjutan, profit, skala pasar, penerimaan petani.S25

Peringkat teratas studi

Pisang

Dinilai kuat secara agregat dalam studi Kalimantan Tengah.S25

Peringkat teratas studi

Nanas

Masuk kelompok terbaik pada kriteria yang sama.S25

Layak bagi petani kecil

Jelutung

Dinilai alternatif layak dibanding sawit, meski rantai nilainya menantang.S24

Layak bagi petani kecil

Gemor

Sama seperti jelutung: prospek ada, pasar belum matang.S24

Butuh lahan basah

Purun

Bahan anyaman dan konstruksi pada muka air tinggi — cocok justru saat gambut basah.S27

Kandidat lain

Kelakai

Masuk daftar setelah tiga tanaman teratas dalam studi yang sama.S25

Kandidat lain

Tengkawang

Diikuti kangkung, buah naga, manggis, dan melon pada urutan studi.S25

Peringatan dari studinya sendiri Studi Kalimantan Tengah (Uda, Hein, Adventa, 2020) mengingatkan agar berhati-hati pada tanaman yang membutuhkan drainase rendah — karena drainase itulah yang mengeringkan gambut dan memicu kebakaran.
Batasan Paludikultur bukan solusi instan. Membangun rantai nilai butuh waktu, dan restorasi swakelola di tingkat tapak masih memerlukan pendampingan lembaga berkualifikasi.S34

10Mitos & fakta

Enam kalimat yang sering beredar — dan versi yang lebih akurat.

Kebanyakan salah paham soal karhutla bukan karena orang tidak peduli, tetapi karena angka dan klaim beredar tanpa definisinya. Klik setiap kartu untuk melihat versi yang lebih lengkap.

Mitos 01 · Iklim

“El Nino adalah penyebab utama karhutla.”

Klik untuk fakta
Yang lebih akurat

BMKG menjelaskan dampak El Nino ke Indonesia terutama terasa saat bertemu musim kemarau. Greenpeace, sebaliknya, menyebut El Nino bukan penyebab utama. Dua klaim dari dua pihak berbeda — keduanya ditampilkan, tidak dipilih salah satu.

BMKG (2026)S13 · Greenpeace (2026)S38

Mitos 02 · Konsesi

“Hotspot di konsesi berarti perusahaan itu yang membakar.”

Klik untuk fakta
Yang lebih akurat

Pemetaan NGO memakai overlay peta, dan perusahaan sering membantah. Titik di dalam konsesi tidak otomatis berarti pemegang konsesi membakar. Angka itu menunjukkan lokasi, bukan pelaku — perbedaan penting untuk penegakan hukum.

Greenpeace/Pantau Gambut (2026)S4 · Catatan metodologi

Mitos 03 · Skala

“Semua kebakaran 2026 terjadi di lahan gambut.”

Klik untuk fakta
Yang lebih akurat

Ogan Ilir — yang dinyatakan tidak punya rawa gambut — mencatat 390 hotspot pada 2026, dengan kebakaran di lahan pertanian dan perkebunan kawasan rawa. Pemerintah juga mencatat tren peningkatan potensi di luar enam provinsi gambut, termasuk NTT dan NTB.

Mongabay (12 Okt 2026)S1 · Bisnis.com (28 Jul 2026)S14

Mitos 04 · Kelembagaan

“BRGM dibubarkan mendadak.”

Klik untuk fakta
Yang lebih akurat

Perpres 120/2020 menetapkan masa tugas BRGM empat tahun, yang berakhir 31 Desember 2024. Diksi netralnya: berakhir masa tugasnya — bukan dibubarkan secara mendadak. Beberapa media dan NGO tetap memakai kata “dibubarkan”.

Fortune IDNS15 · Kompas (2025)S5

Mitos 05 · Data hotspot

“Turunnya hotspot 2015–2017 membuktikan kebijakan berhasil.”

Klik untuk fakta
Yang lebih akurat

Angka itu data pemerintah, dan penurunannya berbarengan dengan perubahan kondisi cuaca antar tahun. Kebijakan 2016 memang ada, tetapi menyebut penurunan itu murni akibat kebijakan adalah klaim yang tidak bisa dibuktikan oleh data hotspot saja.

KLHKS12 · Republika (2016)S42

Mitos 06 · Rewetting

“Sekat kanal menyelesaikan masalah gambut.”

Klik untuk fakta
Yang lebih akurat

Sekat kanal bisa menurunkan risiko, tetapi 70% unit sekat kanal ditemukan rusak pada studi 2015–2024. Efeknya juga bervariasi, dan muka air tanah hanya naik pada jarak terbatas dari kanal. Tanpa perawatan, ia bukan solusi permanen.

Inside EcologyS7 · Conservation GatewayS6 · Univ. RiauS40

11Metodologi

Cara membaca angka di halaman ini — terutama saat dua sumber berbeda.

Halaman ini disusun dari satu data pack riset, bukan dari liputan lapangan. Delapan catatan berikut sengaja ditampilkan penuh, bukan disembunyikan di catatan kaki, karena tanpa catatan ini angka-angka di atas bisa menyesatkan.

BRGM menyatakan merestorasi sekitar 1,8 juta hektare dari target sekitar 2 juta hektare pada 2016–2023. S29 Greenpeace menyebut angka 1,6 juta hektare dalam delapan tahun. S2

Keduanya ditampilkan karena keduanya ada di sumber. Yang tidak boleh dilakukan: memilih salah satu tanpa menyebut yang lain, atau menyimpulkan bahwa angka yang lebih besar otomatis salah.

Perpres 120/2020 menetapkan masa tugas BRGM empat tahun, berakhir 31 Desember 2024. S15 Beberapa media dan NGO memakai kata “dibubarkan”. Halaman ini memilih diksi netral: berakhir masa tugasnya.

Data hotspot 2015–2017 adalah data pemerintah, dan penurunannya berbarengan dengan perubahan kondisi cuaca antar tahun. Penurunan itu nyata; klaim bahwa penurunan tersebut murni akibat kebijakan tidak bisa dibuktikan oleh data hotspot saja.

Sumber data: KLHK S12 dan Republika (2016) S42.

Angka kerugian 2015 muncul dalam dua bentuk: US$16,1 miliar (Bank Dunia) S11 dan Rp221–226 triliun dari sumber lainS35. Selisih rupiah muncul karena konversi kurs yang berbeda antarsumber. Karena itu, dolar dipakai sebagai angka utama dan rupiah disebut sebagai konteks.

Pemerintah menyebut luas kebakaran turun dari sekitar 375.000 ha ke sekitar 350.000 ha “tahun lalu”. S14S37 Madani Berkelanjutan mencatat 26.761 ha gambut terbakar pada Juli–Agustus 2025 — hanya gambut, hanya dua bulan, setelah BRGM berakhir. S5

Dua angka ini mengukur hal yang berbeda: cakupan lahan, jenis lahan, dan periode. Membandingkannya secara langsung akan menghasilkan kesimpulan yang salah.

Tiga hal yang sering tertukar: (a) hotspot adalah titik panas hasil deteksi satelit; (b) luas terbakar adalah area yang dihitung pascakebakaran; (c) titik di dalam konsesi adalah lokasi administratif. Pemetaan NGO memakai overlay; perusahaan sering membantah. Lokasi administratif bukan bukti pelaku.

Contoh paling jelas: Ogan Ilir, yang dinyatakan tidak punya rawa gambut, tetap mencatat 390 hotspot pada 2026. S1 Pemerintah juga mencatat tren peningkatan potensi kebakaran di luar enam provinsi gambut, termasuk NTT dan NTB. S14

Kontan Insight menambahkan nuansa: gambut pasang surut sebagian besar tergenang, sehingga yang rentan adalah gambut pedalaman. S20

GAPKI (2016) menyatakan membentuk 527 Desa Siaga Api dan, berdasarkan data anggotanya, tidak ada titik api di konsesi anggota. Klaim ini sudah lama dan tidak sebanding dengan data NGO 2025–2026. S28 Ia ditampilkan sebagai posisi pihak industri, bukan sebagai bantahan atas data terbaru.

Label yang dipakai konsisten
Klaim pemerintah

Pernyataan resmi kementerian, badan, atau pejabat. Ditampilkan sebagai klaim, bukan kebenaran akhir.

Temuan NGO

Hasil pemetaan atau laporan organisasi masyarakat sipil. Metodenya dijelaskan bila tersedia.

Studi ilmiah

Jurnal atau studi yang diterbitkan, dengan keterbatasan cakupan wilayah dan periode.

Opini penulis

Analisis dan rekomendasi yang bukan temuan riset. Tidak boleh dibaca sebagai data.

Yang tidak ditemukan — dan tidak dikarang

Celah data yang diakui

  • Isi final Perpres BPGMN, struktur resmi, dan angka anggaran.
  • Efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca terhadap kebakaran gambut.
  • Total luas terbakar 2026 versi resmi — belum ada data final di sumber yang ditemukan.
  • Biaya per hektare rewetting di Indonesia.
  • Data biaya perawatan sekat kanal setelah proyek selesai.

Cara menyikapinya

Ketiadaan data bukan alasan untuk mengisi kekosongan dengan tebakan. Di halaman ini, setiap tempat yang seharusnya berisi angka tetapi tidak ditemukan akan dinyatakan kosong.

Jika kemudian ada data resmi yang lebih baru, yang perlu diperbarui bukan hanya angka — tetapi juga definisinya.

12Opini

Empat hal yang menurut kami paling layak dikerjakan.

Bagian ini opini penulis, bukan temuan riset. Ia disusun hanya dari data di halaman ini — dan bisa salah. Silakan dibaca sebagai usulan untuk diperdebatkan, bukan kesimpulan akhir.

Opini penulis

01 · Anggarkan perawatan, bukan hanya pembangunan

Jika 70% sekat kanal rusak, maka anggaran berikutnya yang paling mendesak bukan membangun sekat baru, tetapi biaya pemeliharaan multi-tahun yang terikat pada unit yang sudah ada. Rewetting tanpa perawatan adalah pengeluaran yang hangus setiap musim kering.

Opini penulis

02 · Beri BPGMN kewenangan atas izin dan data

Badan baru yang hanya boleh “mencegah” akan kesulitan menyentuh akar masalah. Dua kewenangan yang paling menentukan: mengevaluasi perizinan di atas gambut rusak/terbakar, dan membuka data dengan definisi yang bisa diuji publik.

Opini penulis

03 · Ukur keberhasilan dari pemulihan dan eksekusi putusan

Jumlah tersangka mudah dikutip, tetapi tidak mengukur apa pun tentang lahan yang pulih. Ukuran yang lebih jujur: luas area yang benar-benar pulih, denda korporasi yang dieksekusi, dan efek jera — tiga hal yang diminta Greenpeace untuk dijadikan tolok ukur.

Opini penulis

04 · Lindungi gambut lindung, bukan hanya konsesi besar

57% hotspot September 2026 berada di fungsi lindung gambut. Fokus yang hanya ke konsesi besar melewatkan mayoritas titik api. Pencegahan presisi berbasis desa — sebagaimana ditekankan Presiden — hanya masuk akal jika desa di sekitar gambut lindung mendapat dukungan ekonomi, bukan hanya larangan.

Yang bisa dilakukan pembaca hari ini
Alat publik

Cek data gambut sendiri

BRGM menyediakan SIPALAGA (pemantauan tinggi muka air gambut) dan FDRS Gambut (peringkat bahaya kebakaran) sebagai alat publik. S31

BRGM / Antara

Kebiasaan membaca

Tanya definisi sebelum percaya angka

Setiap angka karhutla perlu tiga pertanyaan: apa definisinya, periode apa, dan siapa yang menghitung. Tanpa ketiganya, angka besar hanya jadi bahan pertengkaran.

Bukan temuan riset

Rujukan

Dukung yang menjaga gambut tetap basah

Paludikultur — sagu, jelutung, purun — memberi pendapatan tanpa mengeringkan lahan. Hambatannya rantai nilai dan pendampingan, bukan tanaman. S24S26

Studi & praktik lapangan

13Sumber

Semua angka punya alamat.

45 sumber yang dipakai dalam data pack riset ini, dari laporan NGO, studi ilmiah, dokumen pemerintah, sampai pemberitaan. Setiap nomor S1–S45 di halaman ini menunjuk ke daftar ini. Silakan periksa, bantah, atau lanjutkan.

45 sumber

Tentang halaman ini Disusun dari satu data pack riset tentang kebakaran lahan gambut Indonesia per 19 Oktober 2026. Tidak ada wawancara tambahan, tidak ada angka dari ingatan penulis, dan tidak ada data yang dikarang untuk mengisi celah. Analisis dan rekomendasi diberi label Opini penulis.